Waktu SD saya dan teman-teman senang sekali berpetualang,
seperti menyusuri jalan di Baturaja. Berkeliling keliling dari pasar lama
sampai pasar baru. Pada waktu itu saya dan teman-teman berencana untuk
jalan-jalan lagi, saya bersama 3 orang teman langsung menuju ke rumah teman 1
lagi (sebut saja si A), rumahnya itu jauh di Lintas. Kami kesana naik angkot,
setelah kami sampai disana kami semua sepakat untuk berpetualang, tidak tau
arah tujuan yang penting kami akan melakukan jalan-jalan. Padahal kami tidak
tau itu nama jalan apa, kami sedang di mana juga kami tidak tau sama sekali.
Pertama kami memasuki lorong-lorong kecil tembus ke perumahan, disana kami
menemukan pohon rambutan, kami pun mengambil buah rambutan itu, tidak banyak
kami mengambil dan kami makan rambutan sambil melanjutkan perjalanan. Terus aja
kami berjalan lewat rumah-rumah, belok sana sini tetapi jalannya itu-itu saja,
jadi kami sepakat lewat jalan satunya.
Sudah cukup lama kami berjalan dan kami rasanya ingin kembali
pulang, tetapi kami tidak tau jalan pulang dan tidak tau sedang berada dimana,
kami merasa cemas dan khawatir, bagaimana kami bias pulang, sedangkan kami
sudah sangat kecapekan, berjalan-jalan cukup lama dan panas-panasan ditambah
lagi haus. Kami melihat ada sungai kecil, di pinggir sungai kecil itu kami
beristirahat dan mencuci kaki, rasanya sangat segar dengan air yang jernih.
Sambil kami semua berpikir bagaimana cara kami pulang ke rumah dengan selamat.
Teman saya si A langsung saja bertanya kepada ibu-ibu yang lewat, teman saya
bertanya disini daerah mana, ibu itu menjawab daerah air paoh sananya
lagi(pokoknya lebih jauh dari air paoh), Kami terkejut kok kami bisa sampai
sejauh ini, kami semua cemas karena tidak tau mau pulang naik apa dan kalau
kami balik lagi melewati jalan yang tadi takutnya kami akan tambah tersesat,
mana lagi jarang angkot lewat .
Kami berdoa agar diberi jalan keluar untuk pulang ke rumah,
terus berdoa, dan sambil berbincang-bincang. Tiba-tiba ada 1 angkot berwarna
merah yang lewat. Ketika melihat angkot tersebut rasanya kami sangat tertolong
sekali, kebetulan sekali supir angkot tersebut adalah ayah teman 1 sekolah
kami. Perasaan sangat legah dan senang sekali ketika supir angkot tersebut mau
mengantarkan kami ke rumah kami masing-masing, supir itu sangat baik, sambil
kami berbincang-bincang dengan supir itu, ternyata rumahnya di dekat daerah
tersebut. Teman saya si A bertanya berapa ongkosnya, supirnya menjawab Rp.1000
saja, padahal jaraknya kan cukup jauh. Kami sangat berterima kasih kepada supir
tersebut dan juga tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena-Nya la kami
bisa pulang. Dan kami kapok jalan-jalan, kalaupun ingin jalan-jalan paling ke
pasar baru saja.
Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya,
setiap cobaan selalu ada jalan keluar, dan kita PASTI MAMPU menghadapi cobaan
tersebut. Dengan pengalaman ini kami jadi tau dan sadar kehadiran Tuhan
membantu kami, di saat kami tersesat tidak tau jalan pulang. Jadi janganlah
kalian lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, dan ingat “Bahwa Tuhan selalu
melihat, mengawasi, melingdungi, dan hadir untuk menolong umatnya yang
kesusahan”.
Nama:
Canesty Gustriani
Kelas: XII
IPS 2
Mapel:
Religiositas

Posting



0 komentar:
Posting Komentar